Macam-Macam Hadis Berdasarkan Sifat Sanad
STANDAR KOMPETENSI
1.
Memahami macam-macam hadis berdasarkan sifat sanad
KOMPETENSI DASAR
1.1
Menjelaskan hadis mutasil, musnad, mu’an’an, musalsal,
‘ali dan naazil
1.2
Menunjukkan contoh-contoh hadis mutasil, musnad,
mu’an’an, musalsal, ‘ali dan naazil
HADITS DITINJAU DARI SISI JUMLAH RAWINYA
Yang dimaksud dengan jumlah perawi di sini
adalah jumlah perawi antara perawi sebuah hadits sampai kepada
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada satu jalur periwayatan, misalnya
antara Imam Bukhari sampai kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
apakah jumlah perawinya tiga, empat, atau lima. Demikian seterusnya.
A. SEDIKIT (AL
ISNAD AL ‘ALI, YANG TINGGI)
1. Definisinya
Yaitu sanad yang jumlah rawinya adalah sedikit
2. Hukumnya
Hadits ini kadang-kadang shahih, kadang-kadang
hasan dan kadang-kadang dla’if
3. Macam-macamnya
a. Ketinggian secara muthlaq
1) Definisinya
Yaitu hadits yang dekat kepada Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam
2) Contohnya
a)
Imam Ahmad berkata : “Isma’il bercerita kepada kami dari Abdul Aziz dari Anas
secara marfu’ : “Jika salah seorang dari kalian berdo’a, maka hendaklah
dia menegaskan dalam do’anya. Dan janganlah dia mengatakan : “Jika engkau
menghendaki, maka berikanlah kepadaku”. Karena sesungguhnya Allah itu tidak ada
yang memaksa-Nya”.
b)
Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar secara marfu’
: “Jika orang yahudi itu ketika mengucapkan salam kepadamu, dia berkata : السَّامُ عَلَيْكُمْ
(kematian tetap kepada kalian). Maka katakanlah : وَعَلَيْكَ
(dan ettap kepadamu)”.
b. Ketinggain secara nisbi
a. yaitu
kedekatanya kepada salah seorang imam dalam ilmu hadist, seperti Al
A’masy, Ibnu Juraij, Al Auza’I dan lain-lain.
Contohnya :
Imam Bukhori
berkata : “Ismail bercerita kepada kami, : “Malik bercerita kepada saya dari
Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahmaan dari Abu Hurairah secara marfu’ :
“Barang siapa yang melakukan qiamurramadhan karena beriman dan mencari ridlo
Allah, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu “.
b. Ketinnggian
ditinjau dari sisi kedekatan kepada suatu kitab yang dijadikan
sebagai rujukan, seperti ash shohihaini. Ini ada empat
macam, yaitu :
1)
Al Muwafaqoh
a)
Definisinnnnya
Yaitu kesampaiannya
kepada salah seorang pengarang kitab, dengan tanpa melalui jalur
riwayatnya.
b)
Contohnya
Al Hafidz berkata
: “ Imam Bukhori meriwayatkan sebuah hadits dari Qutaibah dari Malik. Jika kami
meriwayatkan hadits itu darinya, maka antara kami dan Qutaibah ada delapan
rowi. Jika misalnya kami meriwayatkan hadits itu dari jalur Abul Abbas As Siraj
maka antara kami dan Qutaibah ada tujuh perowi. Maka terjadilah al muafaqoh
(persesuaian) dengan Bukhori pada gurunya, dengan diiringi ketinggian sanad.
2)
Al badal ( pengganti)
Al Hafidz
berkataa : “yaitu kesampaiannya kepada sseorang guru dari guru penulis kitab
itu. Contohnya seperti jika kami memiliki sanad hadits tersebut dari
jalur yang lain kepada Al Qo’nabi dari Malik, sehinnnngga dia menjadi pegganti
dari Qutaibah.
3) Al
Musawah (Kesamaan)
a)
definisinya
yaitu kesamaan
jumlah sanad dari seorang rowi sampai kepada akhirnya dengan sanad salah
seorang penyusun suatu kitab.
b)
Contohnya
Al Haafidz
berkata : “Seperti jika Imaam Nasai meriwayatkan sebuah hadits yang jumlah
perowinya antara dia dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebanyak
sebelas rawi. Kemduian kami memiliki sand hadits itu dengan sanad yang lain
kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dimnana jumlah rawinya antara
kami dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berjumlah sebelas juga.
Jadi kami menyamai Imam Nasai dari sisi jumlah.
4)
Al mushofahah (jabat tangan)
Yaitu jika jika
jumlah sanad kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam milik seorang
rawi itu sama dengan murid penulis suatu kitab. Al hafidz berkata : “Dalam
bentuk ini seolah-olah kami bertemu dengan Imam Nasai dan berjabatan tangan
dengannya”.
c. Ketinggian
ditinjau dari sisi keterdahuluan wafatnya seorang rawi.
Contohnya :
Ibnus Solah
berkata : “Contohnya adalah hadits yang aku riwayatkan dri seorang guru yang
bercerita kepadaku dari seseorang dari Baihaqi Al hafidz dari Hakim Abu
Abdillah Al Hafidz adalah lebih tinggi dari pada hadits yang aku riwayatkan dari
seorang guru yang bercerita kepadaku dari seseorang dari Abu Bakar Abdillah bin
Khalaf dari Hakim, walaupun kedua sanad itu sama jumlahnya. Karena Baihaqi
lebih dahulu wafat daripada Ibnu Khalaf. Karena Baihaqi meninbggal pada tahun
485,sedangkan Ibnu Khalaf wafat pada tahun 487”.
Sebab ketinggian
sanad itu adalah seperti yang dikatakan oleh As Sakhawi : “:Karena orang yang
lebih dahulu meninggal itu lebih sedikit orang yang meriwayatakan darinya,
dibanding dengan orang yang meninggal belakangan, yang banyak dipelajari oleh
orang-orang yang suka dengannya.
d. Ketinggian
ditinjau dari sisi keterdahuluan mendegarkan hadit itu.
Ibnus Sholah
berkata : “Seperti jika ada dua orang yang mendengar dari seorang guru yang
sama. Yang satu mendengar sejak sebelum enam puluh tahun dan yang kedua
mendengar sejak sebelum empat puluh tahun. Jika sana d kepada keduanya sama
jumlahnya, maka sanad kepada orang pertama adalah lebih tinggi daripada sanad
kepada orang kedua”.
B. BANYAK (AL ISNAD AN NAZIL, YANG RENDAH)
1. Definisinya
yaitu sanad yang banyak jumlah rawinya.
2. Hukumnya.
Kadang-kadang hadits ini shahih, kadang-kadang
hasan dan kadang-kadang dla’if.
3. Macam-macamnya.
Ada dua macam, yaitu kerendahan secara mutlak
dan kerendahan secara nisbi. Bagian ini merupakan kebalikan dari macam-macam
ketinggian yang sudah dijelaskan di atas.
<
Tidak ada komentar:
Posting Komentar